Tentang GPIB Yudea
Awal mula Jemaat GPIB YUDEA
Jemaat GPIB YUDEA, keberadaannya berawal dari pelayanan Jemaat GPIB SAMARIA Tangerang. Sejak tahun 1960-an pelayanan SAMARIA sebagai persektuan pegawai dan pembinaan iman para narapidana yang ada di Tangerang, yang selanjutnya telah mengembangkan Ibadah-ibadah Keluarga dan Minggu di perumahan perumahan baru (Perumnas Karawaci dan Cimone) yang dilaksanakan dirumah warga jemaat.

Awal tahun 1979 PERUMNAS Karawaci Tangerang mulai dihuni. Penghuninya beraneka suku bangsa dan agama. Penghuni yang beragama Kristen berkeinginan untuk Proposal Pembangunan GSG GPIB Yudea 2009 beribadah, sehingga pada bulan Juni di tahun yang sama, dibentuklah badan pengurus yang berasal dari semua sekte, yang diketua oleh Bapak Soleman dan Kebaktian pertama dilaksanakan di rumah Beliau. Pelayanan ibadah Minggu dan keluarga umumnya dilaksanakan atas inisiatif warga jemaat.

Sesudah ibadah hari Natal bulan Desember 1979 Bapak Sanaky dan Bapak Henky Mawengkang bertanya kepada jemaat berkaitan dengan asal muasal Gereja setiap anggota. Ternyata banyak yang berasal dari GPIB, sekitar 10 keluarga. Maka pada saat itu juga disepakati untuk melaksanakan ibadah Minggu dan ibadah keluarga.

Dan secara spontan Bapak Hengky Mawengkang menyetujui agar rumahnya yang beralamat di Jl. Sawo V No. 63 dipakai menjadi tempat beribadah. Pada tanggal 31 Desember 1979 jam 19.30, Jemaat GPIB melaksanakan Ibadah akhir tahun di rumah tersebut yang dipimpin oleh Pdt. E. Sopacua dari GPM Ambon. Bapak Pdt. E. Sopacua waktu itu sedang mengikuti pendidikan di STT Jakarta.

Untuk memformalkan keberadaan Jemaat di PERUM, Bapak Sanaky dan Bapak Hengky Mawengkang melapor ke GPIB SAMARIA Tangerang, dan pada saat itu juga diadakan rapat pleno majelis di GPIB SAMARIA Tangerang yang dipimpin oleh Bapak Pdt. Manuhutu.

Hasil dari rapat pleno adalah Kegiatan ini didukung oleh Majelis Jemaat GPIB SAMARIA Tangerang, dan terbentuklah Sektor VI (enam) yang kemudian berubah menjadi Jemaat Bagian dengan wilayah pelayanan meliputi wilayah PERUMNAS I, II, III, IV(masih dalam tahap
pembangunan), Kompleks Cimone Mas Permai, Cimone Permai, Sari Bumi Indah dan Binong Permai. Ibadah Sektor Pelayanan VI GPIB SAMARIA berlangsung sampai tahun 1982 di rumah Bapak Hengky Mawengkang.
Tempat Ibadah yang berpindah-pindah
Perkembangan Jemaat GPIB YUDEA terkait erat dengan pengembangan dan pembangunan pemerintah di bidang perumahan baru diwilayah Jabodetabek sehingga jumlah jemaat yang beribadah bertambah yang pada gilirannya dibutuhkan tempat ibadah yang memadai dan tetap, maka tempat ibadah dipindahkan ke rumah (Alm.) Bapak Andreas Rewasan Jalan Sawo V No. 59 PERUM I (tipe 21, luas tanah 90 m2).

Dengan semakin bertambahnya jemaat yang beribadah setiap minggu, maka Sektor Pelayanan VI berubah statusnya menjadi Bagian Jemaat yang diberi nama Bagian Jemaat YUDEA (BAJEM YUDEA) dan pada tahun 1982 Bapak Pdt Manuhutu (Ketua Jemat GPIB SAMARIA) mengadakan pemilihan majelis BAJEM YUDEA dan terpilihlah 10 orang menjadi anggota majelis jemaat. Jumlah jemaat BAJEM YUDEA sekitar 250 KK dan jumlah jiwa 600 orang.

Karena jumlah jemaat semakin bertambah dan ibadah rutin yang dilaksanakan di rumah penduduk yang peruntukannya bukan untuk tempat ibadah, maka pada tangal 4 Juni 1989 dengan Surat Keputusan No. S/043/I-B/VI 89, Majelis Jemaat GPIB SAMARIA membentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja BAJEM YUDEA dengan masa tugas selama 4 tahun dimana Bp. Rudy Sapacoa ditunjuk sebagai ketua panitia.

Langkah pertama yang dilakukan panitia adalah mengajukan permohonan kepada pihak PERUMNAS untuk mendapatkan sebidang tanah, yaitu lokasi tanah yang telah disediakan khusus untuk ibadah. Pada tanggal 11 Juni 1989 Panitia mengadakan survey ke lokasi sarana ibadah yang telah disiapkan oleh PERUM PERUMNAS II yaitu 20 sarana ibadah untuk agama Muslim dan Non-Muslim. Panitia mendapati sarana ibadah yang ada telah dipasangi papan nama akan dibangun mesjid. Dengan perkataan lain, sarana ibadah yang telah disediakan tersebut seluruhnya untuk pembangunan mesjid bagi kaum muslim.

Namun demikian, pihak PERUMNAS memberi kesempatan untuk mengajukan permohonan pembelian tanah yang terletak di Jl. Betet PERUMNAS I Tangerang dengan luas tanah 2000 m. Panitia melayangkan surat pada tanggal 7 Januari 1990 melalui surat no. 024/PPGI/I/90 ditujukan kepada Kepala Kantor PERUMNAS Unit Tangerang dengan tembusan Kepala Kantor PERUMNAS Cabang III Kelender untuk mendapatkan sebidang tanah untuk pembangunan gedung gereja.

Permohonan ini mendapat tanggapan yang positif dari kepala kantor PERUMNAS Cabang III Klender dengan surat No.: Cab III/1115/05/90 tanggal 14 Mei 1990. Dalam suratnya beliau mengatakan bahwa PERUM PERUMNAS setuju secara prinsip, namun perlu adanya perubahan/pengesahan peruntukan dalam site plan, sekaligus rekomendasi dari PEMDA Tkt-II Tangerang.

Dengan meninggalnya Bapak Rewasan, beberapa penduduk sekitar meminta agar tempat beribadah dipindahkan. Pada tanggal 23 September 1991, Warga RT 02-RW 02 Cibodasari Tangerang mengajukan surat keberatan tentang tempat tinggal yang beralamat di Jl. Sawo V/59 RT.002/02 digunakan sebagai tempat kegiatan ibadah, dan memohon kepada Kepala Desa Cibodasari agar membantu menyelesaikan permasalahan pembangunan tempat peribadahan/Gereja.

Kondisi ini lalu dilaporkan kepada Lurah Cibodasari dan Camat Jatiuwung untuk mohon petunjuk yang selanjutnya diberi rekomendasi ijin lokasi lahan tanah di Jalan Betet Raya (dekat Kuburan) untuk dibangun sebuah rumah Ibadah. Berpegang kepada surat dari PERUMNAS Cabang III, maka pada tanggal 24 September 1991 diadakan peletakan batu pertama pembangunan gedung GPIB BAJEM YUDEA di Jl. Betet Raya.

Bulan Desember 1991 pembangunan gedung gereja sudah mencapai posisi 40% sehingga sudah bisa dimanfaatkan untuk tempat ibadah. Tepatnya tgl 31 Desember 1991 dengan penuh rasa sukacita warga jemat datang ke Gereja untuk mengikuti ibadah akhir tahun sekaligus merupakan ibadah pertama bagi BAJEM YUDEA di gedung gereja yang dibangun oleh jemaat sendiri, ibadah
dipimpin oleh Bapak. Pdt Rap Rap. Terhitung tanggal 01 Januari 1992, tempat ibadah di Jl. Betet Raya sudah mulai digunakan, sekaligus mengakhiri kegiatan ibadah di Jalan Sawo V No.59 Perumnas I.

Namun ditengah kebaktian Tuhan menguji keteguhan hati jemaat dengan adanya pelemparan batu dari orang-orang yang tidak suka melihat kegembiraan dari Umat Kristen yang sedang beribadah. Namun Puji Syukur kita ucapkan kepada Bapa di Sorga yang tidak membiarkan umatnya dicobai melebihi kemampuannya, lemparan batu tersebut tidak mengenai jemaat yang sedang kebaktian.

Namun kehadiran gereja di Jl. Betet Raya, kurang mendapat respon positif bagi warga di sekitar. Panitia Pembangunan sudah berusaha memperoleh ijin lingkungan pendirian gereja sebagai salah satu persyaratan dari SKB (Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) dengan nomor: 01/BER/MDN-MAG/1969 tanggal 13 September 1969, yang isinya sebagian menyatakan setiap pembangunan rumah ibadah harus mendapat ijin lingkungan. Dengan berbagai cara ijin lingkungan telah diusahakan oleh panitia melalui pendekatan-pendekatan persuasif namun tidak membawa hasil.
Mujizat yang terjadi sebelum pindah ke Jalan Ciujung
Pelemparan batu berlanjut terus, baik sementara ibadah berlangsung maupun saat gereja dalam keadaan kosong. Akibat pelemparan batu tersebut, gereja mengalami kerusakan yang cukup berat dan diperkirakan apabila turun hujan seluruhnya akan basah kuyup. Tapi berkat Tuhan yang sangat dirasakan oleh Jemaat BAJEM YUDEA waktu itu, setiap ibadah berlangsung tidak pernah turun hujan, hujan kadang turun setelah ibadah selesai seluruhnya. Selain itu pelemparan batu yang berlangsung selama kurang lebih satu tahun, tidak pernah ada seorang jemaat yang kena lemparan batu. Dan yang lebih mengherankan lagi, walau gereja mengalami lemparan batu, anggota jemaat tidak pernah berhenti beribadah.

Pada tanggal 29 Februari 1992 Kepala Desa Cibodasari dan diketahui oleh Camat Jatiuwung memberikan surat keterangan No. 130/474/Pem/II/92 yang isinya tidak keberatan, lokasi tanah di Jl. Betet Raya PERUMNAS I Tangerang untuk dibangun gereja GPIB.

Kemudian di depan Kepala Desa Cibodasari, Panitia membuat Surat Pernyataan yang isinya adalah : "Pendirian Gedung Gereja GPIB di Jl. Betet PERUMNAS I Tangerang bertujuan untuk meningkatkan pembinaan rohani dan meningkatkan mental umat Kristen, agar kelak menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi bangsa dan negara Republik Indonesia, dan tidak mengganggu/mempengaruhi masyrakat di sekitar terutama umat yang beragama lainnya".

Tanggal 26 maret 1992, nomor 600/11.KEC.1992 surat rekomendasi yang distempel dan ditandatangani oleh Camat Drs. Sabaryah Bastam, Camat Jatiuwung yang ditujukan kepada Walikota Tangerang, mengingatkan bahwa lokasi tanah di Jl. Betet adalah tanah untuk guna bangunan dengan sertifikat no. SP CAB III/115/05/90 dan pada prinsipnya tidak keberatan menyetujui permohonan tersebut dikabulkan.

Tanggal 5 Mei 1992, majelis jemaat GPIB SAMARIA membentuk tim khusus guna membantu panitia pembangunan karena banyak dari anggota panitia secara diam-diam telah mundur/pasif seolah-olah harapan sudah tidak ada lagi karena begitu berat tantangan yang dihadapi panitia. Tugas dari Tim adalah membantu panitia untuk mendapatkan IMB.

Untuk memperoleh IMB dari Walikota, panitia mengunjungi Kantor Walikota dua kali dalam seminggu sampai akhirnya pada tanggal 17 Desember 1992, panitia diundang dalam pertemuan dengan walikota dan seluruh instansi terkait antara lain Kepala Perumnas Karawaci Tangerang, Kepala Perumnas Cabang III Klender, Ketua Bappeda, Kepala Kantor Agama Tangerang, Kepala Sospol, Kepala Kejaksaan Tangerang, Komandan Kodim, Kapolres, masyarakat di lokasi Jl. Betet yang diwakili Ketua RT, ketua RW dan pemuka masyarakat.

Rapat dipimpin oleh Bapak Walikota, dimulai jam 11.30 siang. Dalam rapat tersebut, bapak walikota meminta pendapat dari instansi pemerintah mengenai berdirinya gedung gereja di Jl. Betet. Rata-rata para pejabat instansi pemerintah memberi pendapat agar gereja dibongkar, yang tidak memberi jawaban hanya Kepala Desa Cibodasari, Bp. Rais Sugeng. Sedangkan KAKANDEPAG mengatakan agar digabung saja dengan GKO atau dengan Gereja SAMARIA yang sudah ada, hanya diatur jam ibadah masing-masing.

Sekalipun demikian, Bapak Walikota juga memberi kesempatan kepada panitia untuk mengeluarkan pendapat. Pada waktu itu yang berbicara dari panitia, Bp. Rudy Sopacua dan sekretaris, Bp. Drs. Letty Luhu, yang pada intinya mengatakan :

1. Ijin lingkungan sulit di dapat
2. Perlu penyamarataan hak dan kewajiban warga negara, khususnya dalam perolehan ijin mendirikan rumah ibadat, karena sebagian rumah ibadat tidak perlu mendapat ijin lingkungan.
3. Penggabungan dengan GKO, relatif sulit dilaksanakan, karena sifat gereja yang independent semakin bertambahnya jumlah jemaat, sedangkan dengan SAMARIA, kesulitan adalah karena faktor jarak.

Karena tidak ditemukan titik temu, maka Bapak Walikota mengatakan rapat ditutup dan diundurkan sampai satu minggu kemudian.

Selama seminggu, Panitia bergumul agar Tuhan membukakan mata hati Pejabat yang mengeluarkan IMB pendirian Gereja GPIB Jl. Betet Raya. Doa kita semua dijawab oleh Tuhan, dimana pada rapat lanjutan yang dilaksanakan pada tgl 7 January 1993, panitia diundang lagi dalam pertemuan dengan walikota dan instansi Pemda Tangerang lainnya. Dalam rapat ini, Bapak Walikota hanya membacakan surat keputusan dari Bapak Bupati, waktu itu Kol. Tajus Subirin bahwa lokasi gereja dipindahkan dari Jl. Betet ke Jl. Ciujung. Waktu itu tempat pembuangan sampah dengan luas tanah 2000 meter persegi, sesuai dengan pengganti luas tanah di Jl. Betet. Dan waktu itu, Bapak Walikota menginstruksikan semua instansi mulai dari Ka. Kantor Perumnas, Ka. Bappeda, Ka. Kantor Agama, Kejaksaan, Kodim dan Kapolres sejak tanggal 7 January 1993 satu bulan kemudian yakni tanggal 7 February 1993 semua instansi tersebut di atas sudah harus menyiapkan surat-suratnya dan ditandatangani Walikota atas IMB untuk Gereja di jalan Ciujung.

Gereja GPIB YUDEA dibangun pada tahun 1993
Pada awal tahun 1993 akhirnya Pemerintah Daerah Tangerang mengambil langkah-langkah pengamanan, dan melalui surat Bapak Bupati KDH Tingakt II Tangerang Nomor 452.2/048-Kesra tertanggal 05 Januari 1993, tertulis bahwa segala kegiatan peribadatan dan pembangunan di Jalan Betet Raya dihentikan dan dialihkan ke Jalan Ciujung Raya Perumnas I Karawaci Tangerang dengan luas tanah 2000 m2 yang merupakan area rawa dan tempat pembuangan sampah. Hal ini diperkuat oleh Surat Keputusan Direksi PERUM PERUMNAS dengan surat No. Dir 4/0286/KPTS/16/93 tanggal 6 Desember 1993 yang isinya antara lain menyetujui lokasi dimaksud untuk menjadi bangunan gereja.

Peluang baik ini kemudian ditindaklanjuti oleh Majelis Jemaat GPIB SAMARIA Tangerang dengan menerbitkan surat tugas No. S33/II/93/KPTS tanggal 18 Pebruari 1993 untuk mengurus IMB. Dengan penuh harap akan Tuhan serta didorong oleh tujuan yang mulia bahwa kebutuhan akan gedung gereja sebagai tempat untuk menciptakan manusia Indonesia yang seutuhnya baik jasmani maupun rohani, panitia mengurus IMB dan dengan surat No. 645.8/162-HUK/IMB/1993 tanggal 8 Juni 1993 Walikota Tangerang mengeluarkan IMB.

Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Kotamadya Tangerang Bapak Drs. Djakaria Machmud Nomor 645.8/162-HUK/IMB/93 tanggal 08 Juni 1993 tentang Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diatas tanah seluas 2.000 M2, maka pembangunan segera dilaksanakan dengan dana swadaya jemaat dan bantuan para donatur.

Dengan mempelajari kondisi dan situasi yang berkembang, maka Sidang Majelis Jemaat GPIB SAMARIA Tangerang membentuk/mengusulkan Panitia Pembangunan kepada Majelis Sinode GPIB dan diterbitkan Surat Keputusan Majelis Sinode No. 2390/93/MS.XV/Kpts tanggal 06 Juli 1993 tentang Penyempurnaan Susunan dan Personalia Panitia Pembangunan Jemaat GPIB YUDEA Bajem SAMARIA di Tangerang yang diketuai oleh Bp. Max H. Saroinsong.

Dengan berbekal IMB tersebut, maka pada tanggal 19 November 1993 dilaksanakan peletakan batu pertama dimulai pembangunan Gereja GPIB Jemaat YUDEA. Dan pada tanggal 12 Maret 1995 dilaksanakan peresmian Gedung Gereja oleh Wali Kota Tangerang yaitu Bapak Zakaria Mahmud, yang selanjutnya Ibadah Pelembagaan/Pentabisan Jemaat GPIB YUDEA Tangerang oleh Ketua Umum Majelis Sinode GPIB yaitu Bapak Pdt. O.E.CH. WUWUNGAN, D.Th

Firman Tuhan berkata : Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Sebuah awal yang membahagiakan, jemaat bersyukur bahwa Gereja yang menjadi pilar persatuan dalam kebersamaan dapat diwujudkan pendiriannya.Dengan bergotong royong seluruh warga jemaat bersatu padu bahu membahu mengatasi segala masalah pembangunan, dari awal pendirian bangunan hingga penyiapan dana dengan menggalang dari lapisan jemaat dan donatur diluar jemaat.Tuhan memberkati jemaat sehingga pembangunan gereja tahap demi tahap diselesaikan sesuai dengan perencanaan.