Renungan

Nasi Telah Menjadi Bubur

.... Dilepaskannyalah mereka dari tangan orang-orang Israel – Yousa 9 : 26

Nasi telah menjadi bubur merupakan peribahasa yang memiliki arti sesuatu hal yang sudah terlanjur terjadi dan tidak dapat diubah lagi. Yosua sudah bersumpah untuk membiarkan orang Gibeon hidup. Sumpah itu sudah diucapkan dan tidak dapat diubah lagi.

Yosua dan orang Israel baru menyadari bahwa orang Gibeon telah memperdayai mereka melalui penampilan. Orang Israel kalah dari orang Gibeon bukan melalui peperangan melainkan tipu muslihat. Sumpah yang diangkat tidak dapat dibatalkan lagi. Karena sumpah itulah Yosua tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap orang Gibeon (ayat 26). Sumpah melalui ikatan persahabatan yang diucapkan Yosua tanpa bertanya kepada TUHAN (ayat 14) dapat dikatakan sebagai kegagalan beriman mereka. Mengapa Yosua dan orang Israel tidak membatalkan saja sumpah tersebut? Karena perjanjian tersebut diresmikan di dalam nama TUHAN yang kudus maka sifatnya adalah kudus (ayat 18-19); oleh karena itu para pemimpin Israel tidak berani melanggar sumpah perjanjian mereka yang akan mendatangkan murka Allah atas diri mereka. Allah pernah menghukum Israel pada zaman Daud karena Saul mengabaikan sumpah ini (II Samuel 21 : 1-6. Tafs. Wycliffe). Pada akhirnya Yosua hanya bisa mengutuk orang Gibeon sebagai hamba dan pekerja bagi orang Israel (ayat 23,27).

Belajar dari kesalahan dari Yosua dan orang Israel yang tidak meminta petunjuk kepada TUHAN. Ad abaiknya kita selalu mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu dalam setiap hal, sebelum kita melakukan segala sesuatunya. Meminta petunjuk kepada TUHAN, tidak hanya menyangkut hal-hal yang besar saja, tetapi juga dimulai dari hal-hal yang kecil, sehingga seluruh kehidupan kita bersumber dari Dia dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Doa : Ajarlah kami ya Tuhan untuk selalu meminta petunjuk kepada-Mu sebelum kami mengambil keputusan.


Renungan: Sabda Bina Umat
Gambar : Google.com